MENYOAL KRISIS KEPEMIMPINAN HIMAS;
Ikhtiar Mencari Pemimpin Alternatif
Oleh: Muarif
(Mantan Ketua Umum Pjs. Himas Pusat Periode 2009-2011)

Bangsa yang kuat adalah bangsa yang mau belajar dari sejarah. Kalimat tersebut berlaku untuk seluruh bangsa, tak terkecuali bagi organisasi yang kita cintai, HIMAS. HIMAS harus belajar dari sejarah, terutama sejarah para pemimpin-pemimpin terdahulu. Apalagi, HIMAS saat ini sedang mengalami krisis kepemimpinan dan kekurangan panutan.
Sejarah membuktikan bahwa, keadaan bangsa dan karakter pemimpin merupakan sesuatu yang tidak terpisahkan. Dalam sejarah bangsa Indonesia misalnya, karakter pemimpin yang dipercaya oleh rakyat adalah karakter manusia yang memang sedang diperlukan bangsa dalam keadaan yang ada saat itu. Bangsa ini menjadi saksi, betapa bervariasinya karakteristik para pemimpin terdahulu dengan keadaan bangsa pada masa yang berbeda pula. Contohnya, Soekarno dengan nasionalisme-nya diangkat menjadi presiden pertama RI, tidak lain karena karakter yang ia miliki memang sedang diperlukan oleh keadaan bangsa saat itu. Belajar dari hal tersebut, Kita diharapkan dapat mencari karakter pemimpin yang diperlukan oleh kita saat ini.
Secara umum, Pemimpin secara langsung berperan sebagai lokomotif (penggerak) langkah masyarakat. Sehingga kemajuan dan kemunduran yang dialami dapat dipengaruhi karakter pemimpin. Pengaruh pemimpin akan memberi jalan bagi pemimpin untuk menjadi penentu kebijakan yang akan diterapkan. Inilah yang sering menjadi polemik tajam akibat timbulnya ketidakselarasan antara pemimpin dan yang dipimpin dalam penerapan kebijakan. Hal ini yang juga terus melekat pada sejarah pembangunan bangsa Indonesia, dan HIMAS pada khususnya hingga kini. Untuk itu, perlu penyaringan karakter pemimpin yang cerdas dalam arti dapat menjadi penentu kebijakan yang bijaksana

Pemimpin juga harus berpengaruh, akan tetapi tidak mudah terpengaruh. Artinya, pemimpin harus memiliki sikap yang mendekatkan pribadinya dengan yang dipimpin. Hal tersebut dapat diwujudkan dengan menjadikan diri seorang pemimpin sebagai inovator atau pembaharu menuju ke arah yang lebih baik. Namun, pemimpin harus tegas dan memiliki pendirian, tetapi tidak otoriter total, sehingga tidak mudah terpengaruh oleh gangguan dan ancaman yang ada.
Disadari maupun tidak, HIMAS saat ini sedang mengalami krisis kepemimpinan. Jujur, kita merindukan akan datangnya seorang pemimpin yang mampu memberikan keteladanan, tanggung jawab, punya misi jauh ke depan yang bisa membawa arah masa depan organisasi dan kepulaun sapeken secara umum. HIMAS sangat membutuhkan sosok pemimpin yang kehadirannya membawakan kesejahteraan dan keadilan untuk mereka.
Sedikit bercerita, Saya merasa kaget ketika beberapa bulan yang lalu saya dikonfirmasi oleh saudara Alex Subhan sebagai Sekretaris Jenderal HIMAS Pusat mengenai kemunduran saudara Andi selaku Ketua Umum terpilih secara terhormat di arena kongres HIMAS-4 tanpa alasan yang jelas. Satu pertanyaan yang saya ajukan ketika itu kepada saudara Alex; apa sebenarnya yang terjadi di tubuh HIMAS pada periodenya, sehingga saudara Ketua Umum menyatakan mundur dari jabatannya? Jawaban yang saya dapatkan adalah "tidak tahu".
Menurut saya, hal ini adalah "dosa lama" yang terulang kembali. Sebab, ketika periode saya (2009-2011) yang pada waktu itu ketua umum dipegang oleh saudara Hamdi, dan saya Sekretaris Jenderal. Akar permasalahannya pun hampir sama yaitu "ketidak siapan". Namun barangkali perbedaannya, jika saudara Andi secara jantan berani mundur dari jabatannya, maka saudara Hamdi tidak. Sehingga saya pada saat itu perlu mengambil inisiatif untuk mengadakan KLB (Kongres Luar Biasa). Alhasi, KLB mengantarkan saudara Guntur terpilih sebagai ketua umum.
Nah, pertanyaannya, apakah perlu HIMAS saat ini untuk mengadakan KLB, sebagaiaman yang pernah terjadi? Secara pribadi saya menolak KLB digelar ulang. Dengan beberapa alasan dan pertimbangan: Pertama, tentu alasan efisien dan efektifitas. Alih-alih untuk KLB, kenapa kita tidak gunakan untuk memikirkan hal-hal yang mendesak, agenda dan program misalnya, atau hal-hal yang mendesak lainnya (bukan berarti saya menganggao KLB tidak mendesak), namun menurut saya banyak hal yang lebih mendesak ketimbang berputar-putar di persoalan KLB. Kedua, sosio-politik. Artinya, konteks zamannya berbeda dengan zaman ketika saya waktu itu. Tingkat partisipasi dan konstelasi "politik" berbeda dengan saat ini, dimana tingkat partisipasi dan konsolidasi para anggota HIMAS hari ini demikian melemah. Tentu hal itu akan menjadi kendala utama di dalam penyelenggaraan KLB. Oleh karena itu, kalaupun misalnya saat ini KLB tetap akan dilaksanakan, pelaksanaanya akan cenderung dipaksakan. Hasilnya pun saya kira tidak akan maksimal.
Dalam menyoal krisis kepemimpinan HIMAS, supaya ini tidak menjadi seperti persoalan yang tidak ketemu ujung-pangkalnya, saya mengajukan beberapa alternatif; pertama, kita perlu mencari dan menunjuk, serta mendaulat dengan segera ketua umum HIMAS baru yang siap; siap bertanggung jawab, siap membawa HIMAS ke arah yang lebih baik, serta siap menanggung resiko (tanpa harus menunggu atau dipilih di KLB). Kedua, untuk jangka panjangnya, kita perlu menyeleksi dan memilih dengan akal sehat dan penuh hati-hati di dalam memberikan amanat dan kepercayaan kepada siapapun yang nantinya ditakdirkan menjadi pemimpin HIMAS masa depan.
Pada akhirnya, karakter pemimpin yang dinanti adalah pemimpin yang amanah dalam tanggung jawab yang diemban, serta visioner dalam melihat strategi memajukan HIMAS seutuhnya. Sehingga, dengan karakter- karakter tersebut, seorang pemimpin memegang peranan sangat penting dalam membangkitkan organisasi ini dari keterpurukan dan dalam proses pencapaian cita-cita kita bersama seutuhnya. Wallahu A'lam Bisshowab !!!

Tidak ada komentar: